Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 9

Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 9by adminon.Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 9LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 9 *sembilan* -Rudi- Aku terduduk letih di depan meja komputer dalam ruangan server. Ternyata sistem jaringan di sini terkena virus, sehingga membuatku harus membenahi kekacauan ini, dan tampaknya akan memakan waktu cukup lama. Sudah dua hari aku berada di lampung, artinya sudah sembilan hari aku […]

multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-14 multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-0 multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-1LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 9

*sembilan*
-Rudi-

Aku terduduk letih di depan meja komputer dalam ruangan server. Ternyata sistem jaringan di sini terkena virus, sehingga membuatku harus membenahi kekacauan ini, dan tampaknya akan memakan waktu cukup lama.

Sudah dua hari aku berada di lampung, artinya sudah sembilan hari aku tidak melampiaskan napsuku. Sejak menikah dengan Nisa, napsuku menjadi meletup-letup, biasanya 2 hari sekali kami bercinta, dan hampir tiap saat aku menggerayangi tubuh Nisa saat sedang bersama.

Aku teringat saat kami sedang menonton film di bioskop dan aku meraba seluruh tubuh Nisa sepanjang film, atau saat Nisa sedang memasak dan aku membantunya menyangga payudaranya dari belakang.

Aku kangen Nisa!

Sekarang aku menatap cemas handphoneku, menunggu Nisa mengirimkan gambar payudaranya. Nisa sih tadi menolak sambil marah dan menutup teleponku. Tapi aku yakin seyakin-yakinnya kalau Nisa tuh pengertian sama aku.

Line!
Tuh kan bener, Nisa emang paling T-O-P B-G-T deh. Dengan tergesa-gesa aku membuka aplikasi Line dan mengunduh gambar yang dikirimkan Nisa.

Dih Nisa! Emang sih ini susunya kelihatan, emang sih putingnya kelihatan. Tapi kenapa gambar anak cowok lagi maen basket gini?!?

“Selamat menikmati, Rudi Mesum!” bunyi pesan singkat dari Nisa, disertai sticker seksi Cony. Aku hanya bisa menggeleng frustasi membaca pesan dari istriku ini.

“Awas kalau aku pulang nanti, aku tusuk kamu sepanjang hari!” balasku sambil menyertai sticker Brown yang sedang marah.

“Biarin! Abis Rudi jahat, malah mesumin aku. Aku masuk kelas dulu ya. Daagh,”

“Selamat kuliah Nisa. Nanti ati2 ya pulangnya. Hug n Kiss from Lampung with love. Dagh,” jawabku menutup percakapan kami melalui Line. Aku kembali melakukan pekerjaanku dan mencoba menyelesaikan secepat yang aku bisa.

“Pak Rudi, nanti sore kita pijat dulu yu sebelum pulang. Ada tempat pijat yang baru buka di dekat kantor. Lumayan lagi promo, nanti saya yang traktir deh,” seorang rekan kerja mengajakku untuk melemaskan otot-otot sepulang kerja nanti.

“Pijat? Wah boleh juga tuh, uda lumayan lama ga di pijat istri,” jawabku sambil mengingat-ingat kapan terkahir kali Nisa memijatku. Aku suka dipijat Nisa, walaupun tenaganya kecil, tapi Nisa mijatnya mesra, hehehe.

Tak terasa hari beranjak sore, aku pun menghentikan pekerjaanku dan berangkat bersama 2 orang rekan kerjaku, yaitu Anton dan Tino menuju tempat pijat yang tadi diceritakan.

Pokoknya, aku mau pilih yang ototnya kekar, biar tenaganya mantap. Tapi kok tempat pijatnya terpencil gini ya? Gelap juga suasananya. Duh, kok jadi ga enak gini perasaanku.

“Ayo mas dipilih mau nomor berapa?” seorang wanita di meja kasir menanyaiku.

“Sa-saya mau yang ototnya kekar,” jawabku sambil terbata-bata. Wanita kasir dan kedua rekan kerjaku memandangku heran, seakan-akan aku membuat kesalahan.

“Pokoknya yang tenaganya kuat, biar berasa,” lanjutku mencoba menjelaskan.

“Hahahaha! Pak Rudi bisa aja, kirain otot apaan, taunya otot itu, hahahaha,” Anton tertawa lepas sambil menepuk-nepuk punggungku.

Aku bingung dengan mereka. Kalau yang pijet tenaganya model kaya Nisa, buat apa aku ikut. Sukur-sukur dapat cowo fitness yang sixpack gitu, kaya di tempat pijat langgananku dulu. Aku beserta kedua temanku kemudian naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar terpisah.

“Selamat sore, mas. Saya Nina. Loh kok masih pake baju? Ayo dibuka mas bajunya biar enak,” seorang gadis masuk ke dalam ruanganku dan memintaku melepas bajuku. Aku memperhatikan gadis tersebut dengan seksama, dari ujung rambut ke ujung kaki.

“Ah, si mas ngeliatinnya begitu banget, uda ga tahan ya? Mau langsung aja?” tanyanya sambil mengedipkan mata dan mendekatiku.

Mana ototnyaaaa!?! Kalau model gini sih, kaga bakal ada rasanya!

Line!
Handphoneku berbunyi.

“Ditaruh dulu dong mas, hpnya,” Nina berkata sambil membelai penisku, membuatku melonjak mundur. I-ini mah pijat plus plus plus. Pantes aja perasaanku ga enak daritadi.

“Be-bentar mbak. Ini penting,” kataku sambil mencoba menahan dan menjauhkan tangan wanita ini dari penis yang telah menjadi hak milik Nisa.

Jeng Jeng! Penisku langsung menegang seketika.
Nisa mengirimkan gambar dirinya sedang berpose di depan cermin. Dan yang membuat Rudi Junior berdiri, dua kancing kemeja bagian atas Nisa terbuka, memperlihatkan payudaranya yang seksi.

“Nih, foto dada aku. Cepet kabarin aku! Aku kangen!” begitu bunyi pesan singkat dari Nisa. Aku langsung menyambar semua barangku dan berlari meninggalkan kamar tersebut.

Asik! Aku mau mesum-mesuman sama Nisa!

Author: 

Related Posts