Cerita Sex Lima Setengah Bagian Dua Enam – Part 2

Cerita Sex Lima Setengah Bagian Dua Enam – Part 2by adminon.Cerita Sex Lima Setengah Bagian Dua Enam – Part 2Enam – Part 2 BAB I Lima Setengah Bagian Dua “Mas, kelapa muda dinginnya satu.” “Kopi satu.” “Ayamnya tambah lagi dua, di bakar.” “Sialan, minta sama mas yang jualanna, jangan ka saya.” Gio mengeluh. “Lah, sama-sama mas mas kan?” Ejek Revi. Semua tertawa. Sore ini seluruh geng 5 setengah kumpul di Punclut, plus satu, Gio, […]

tumblr_nvysa3lsyp1tp7wv0o3_500 tumblr_nvysa3lsyp1tp7wv0o4_500 tumblr_nvysa3lsyp1tp7wv0o5_500Enam – Part 2

BAB I
Lima Setengah Bagian Dua

“Mas, kelapa muda dinginnya satu.”
“Kopi satu.”
“Ayamnya tambah lagi dua, di bakar.”
“Sialan, minta sama mas yang jualanna, jangan ka saya.” Gio mengeluh.
“Lah, sama-sama mas mas kan?” Ejek Revi. Semua tertawa. Sore ini seluruh geng 5 setengah kumpul di Punclut, plus satu, Gio, kekasih Ima. Menikmati sore hari kota Bandung sambil makan ayam bakar, nasi merah dan kelapa muda dingin. “Ga gitu juga kali.” Bela Ima, “Ganteng-ganteng gini juga pacar Ima.”
“Cieee, tapi masih kekar gue Ma, ni liat.” Gusti menimpali seraya memamerkan otot tangannya yang memang kekar. “Heh, Betawi edan, lu mah mikirin otot mulu, otak juga pake dong, masa body kayak gitu masih juga jomblo.” Ledek Bima, semua, kecuali Gusti pastinya ketawa. “Eh, Jawa kurang asem, gue bukan gak mampu dapet cewek, cuman belum mau aja.”
“Ya ni Gus, kamu homo ya? Perasaan dari kamu pindah ke Bandung kalo gak ama kita-kita, kamu maen ama sepupumu aja deh.” Ima menambahkan, “Kita semua sebenernya penasaran, tapi ga enak aja nanya, suer, kita-kita gak mau kalo kita nanya ama kamu, kalo kamu itu suka laki-laki ato perempuan?”
Tawa kembali meledak kencang, membuat tamu lain di rumah makan itu melirik ke arah mereka. Tak terkecuali para pelayan dan pemilik tempat makan itu.

Edan, 7 orang aja berisiknya kaya kebun binatang. “Say, kamu si itu sama aja nanya ama si Gusti. Parah lah.” Sambung Gio. “Ga papa mas, kali-kali, emang harus digituin tu anak.” Rian menimpali enteng.
“Lah, lu sendiri gimana Yan? Yuni, Atika, Ifa, mereka pada demen ama lu, eh, lu nya dingin, jangan-jangan lu yang gak normal.” Gusti membalas dengan cepat. “Udah, kalian cocok ko, jadian aja, kami ikhlas ko.” Sambil menikmati daging dalam mulut Revi memberi pendapat. Gusti kembali mengelak, namun Rian diam. Omongan Revi tadi walaupun becanda cukup membuat hati dia berdetak lebih kencang.

“Eh, serius mereka suka ama si Rian? Si Ifa yang cantiknya bukan main tapi dingin kaya putri es?” Bima bertanya ke Gusti. “Suer, potong tuh telinga si Udin kalo gue bo’ong.” Jawab Gusti. “Nah lu lagi Betawi, gue lagi enak-enak makan mau maen potong aja, potong tuh kemaluan lo. Ato jangan-jangan lu gak punya lagi?” Komentar Udin. Dan kemudian terjadilah perang mulut yang dahsyat membahana.

==========================================
“Mas, mau teh anget ato susu anget?”
“Susu Ima aja boleh?”
“Apaan ah. Genit. Weee.”
“Hahahahaha. Teh aja, jangan anget. Suhu ruangan aja.”
“Berapa derajat itu mas?”
“Ni anak, dicium geura.”
“Ah, gak usah mas ngomong gitu juga, biasanya maen terkam aja, hehe.”
Tak lama kemudian, Ima masuk ke kamar membawa dua cangkir teh. Kamarnya di lantai dua. Ima sendiri anak bungsu dari 3 bersaudara. Yang paling tua sudah menikah, tinggal di Jakarta, yang kedua anak laki-laki, malem minggu gini pasti ngilang entah kemana, orang tuanya jam segini pasti lagi asik nonto para wayang kocak di TV.

“Kamu seksi kalo udah pake kaos itu Ma.” Gombal Gio. “Apalagi kao gak dipake.” Senyum setan terpancar dari bibir Gio. “Uuuu, maunya.” Ima menjawab sambil mencibir. Menambah kecantikannya. Pulang dari Punclut, mereka langsung pulang ke rumah Ima. Hari ini Ima menggunakan celana jeans biru, kaus ketat dan kerudung warna putih dan jaket hitam. Ima menyimpan kedua gelas di atas meja belajarnya. Kemudian duduk di samping Gio di atas kasur dengan dipan warna coklat kayu. Di layar TV terlihat adegan laga dari sebuah film yang di putar di HBO. Sebetulnya, sedari tadi mata dan pikiran Gio sudah tidak fokus ke TV, melainkan ke Ima, kekasih cantiknya ini benar-benar mempesona.

Tanpa menunggu lagi, Gio memeluk Ima, dan mulai melumat bibir indahnya, mereka berciuman, awalnya pelan, lama kelamaan semakin bernafsu. Nafas mereka semakin memburu. Perlahan tangan Gio bergerak ke arah buah dada Ima, dia meremas pelan buah dada sebelah kanan, bergantian ke sebelah kiri, berharap menemukan putingnya dari balik kaos putih dan BH yang digunakan Ima.

Sampai pada suatu saat, saking bernafsunya, tangan kanan Gio meremas kedua buah dada Ima secara bersamaan. “Aaaaahhhh, massss, pelan, mmmm, slurp, mas, geli mas.” Gio melumat bibir indah Ima seperti tak ada hari esok. Gio sudah tidak sabar, diangkatnya kaos Ima ke atas, dan dilepaskan kaitan BH Ima, kemudian
dia kembali meremas dua gunung kembar yang indah itu. Ukurannya yang pas dengan puting merah muda yang tidak kecil dan tidak besar. Tangan kanan dan kiri Gio mulai memilin kedua puting Ima, Ima sendiri sudah gelagapan, rasa geli dan enak menyerang dirinya. “Mas, ooohhh…. ” Gio mengarahkan ciumannya ke telinga Ima yang masih tertutup kerudung. Ima merinding tapi merasakan kenikmatan yang tiada tara. “Enak sayang?” Gio bertanya. Ima hanya bisa mengangguk. Lemas. Ini kali kedua putingnya dipilin oleh kekasihnya. Laki-laki pertama yang melakukannya.

Ciuman Gio turun, ke arah leher, sedikit menyibakkan kerudung Ima, mencium lehernya yang putih jenjang itu, membasahinya, menjitatnya, menggigitnya, menciumnya kembali. Membuat Ima semakin tidak karuan. Kerudung Ima pun sudah sama tidak karuannya. Turun, bibir Gio diarahkan ke puting kanan Ima, menjilatnya, memutarinya dengan lidah, membuat Ima mendesah. Dan tiba-tiba, Gio membuka mulutnya lebar-lebar, menyedot buah dada kanan Ima kuat-kuat, memasukkan hampir seluruh buah dada kanan Ima ke dalam mulutnya. “Heggg.” Menahan nafas sebentar karena kaget dan nikmat. “Maaassss!!! pelan-pelan mas, enak tapi, terus, terus mas. Aaaahhhhh. Mas, iikhh, hah hah hah.” Ima tak kuasa lagi menahan gejolak nafsunya. Tangan Gio terus meraja lela, kini turun ke atas perut rata Ima, turun lagi, dan berhenti di atas paha kirinya. Membelai, meremas, dan naik lagi sampai ke selangkangan Ima, “Aaaahhh, mas, jangan kesitu, geli.”

“Tahan bentar say, ntar juga enak.” Gio menjawab sambil terus menjilati puting Ima. “Puting kamu ngegemesin Ma, sluuurrppp, Ma, enak ga diginiin?” Ima menjawab dengan nafas yang tidak teratur, “Enak, tapi jangan yang di bawah, sakit mas.” Gio seakan tidak mendengar rengekan Ima tetap melakukan tindakannya. Kemudian dia menaiki Ima, menindih Ima di bawahnya, dan mulai menekankan kemaluannya di atas vagina Ima. Kembali Gio mencium bibir Ima, meremas dada Ima, memilin puting Ima, sampai dia mengerang. “Aaaaarrrghhh.” Dia orgasme dari peting yang mereka lakukan. Kemudian Gio membalikan badan, terlentang di samping Ima yang masih bernafas cepat. Kemudian dia mencium kening Ima, “I love you my angel.”

==========================================
Motor itu sampai di depan gerbang sebuah rumah. “Makasih Yan.” “kembali kasih Revi.”
“Masuk dulu gak? Kalo gak salah masih ada bandrek di dalem.” Ajak Revi. “Hayu, ada makanannya juga gak?”. “Dasar perut naga, makanan mulu ni anak. Bisa di atur lah.”Dengan perasaan gembira Rian memesukan motor ke halaman rumah Revi. Dan dimalam itu mereka berdua bercengkrama, berdebat, berargumen, curhat, tertawa bersama. Hati Rian sangat berbunga, melihat lirikan Revi dan senyumnya, bibirnya, ah, betapa indahnya itu bibir, coba kalo dilumat, pasti empuk.

Rian sudah terbiasa duduk berdekatan dengan Revi, apalagi kalo anak-anak lagi kumpul. Jadi tukang ojek pribadinya juga sering. Nonton berdua pun sudah gak bisa diitung lagi. Namun kali ini, berdua, di ruang tamu yang sepi, duduk bersampingan, saking dekatnya wangi kerudung Revi tercium dengan jelas. Hatinya selalu berdebar, setiap kali mata mereka bertemu lama. Dekat. Indah.

Tiba-tiba terdengar lagu tema Power Ranger, HP Rian berbunyi, SMS, dari Udin ngajakin maen DotA. Sialan si sarkudin, batin Rian, padahal udah ada chemistry. “Vi, saya pulang dulu ya, si Udin ngajak maen game.” Lagian, kalo kelamaan di sini nanti yang lain curiga, jam 11 malem masih di rumah Revi. Ada apa. “Ya udah, gih pulang sana. Ati-ati Yan, ma kasih ya.”

Malam itu Rian membawa motor dengan ringan dan bahagia.

==========================================
Suara bola biliar beradu keras. Pulang dari Punclut, Bima, Udin dan Gusti langsung ke arena biliar langganan mereka. Taruhan. Yang kalah harus menggoda mbak Lidya, kasir disana. Gusti yang minim pengalaman dengan perempuan jelas saja berjuang keras untuk menang. Bima, dilain pihak, berjuang agar menang, dia ingin menyaksikan usaha GUsti merayu mbak Lidya. Udin yang gak bisa maen diputuskan menjadi wasit, atau lebih tepatnya, saksi peristiwa yang akan datang.

“Sialan lu Jawa, gue kali ini kalah, tapi liat besok, pasti gue bales.” Kata Gusti.
“Udah, kalah mah kalah, noh, mbak Lidya noh, si cantik kutilang darat nan mempesona. Ini adik gue juga bangun terus kalo liat dia.” Bima menjawab sambil terkekeh. “Nah, lo aja kalo gitu.” Sambung Gusti. “Ogaaah, the deal is, the loser, that is you, must seduce her, hahahaha. Kecuali kalo lo pengecut.”

“Gue, pengecut? Kagak. Liat ni. Gue buktiin kalo gue bisa.” Dan Gusti dengan muka merah berjalan ke arah mbak Lidya, setengah jalan dia berbalik dan melangkah kembali, namun melihat Bima dan Udin joged bergaya seperti ayam dia kembali berbailk. Gak tau apa yang mereka bicarakan, Bima hanya melihat dari jauh ketika tangan Gusti di tarik oleh mbak Lidya ke atas. Terlihat raut muka Gusti yang panik. Bima dan Udin hanya bisa melongo dan tak sadar ketika bibir Gusti membentuk sebuah kata. “Tolong.”

——Bersambung——

Author: 

Related Posts